Jakarta adalah kota energi, budaya, dan permata tersembunyi. Namun, jika Anda berencana menjelajahi ibu kota Indonesia seperti Anda menjelajahi Tokyo atau London, Anda mungkin perlu mempertimbangkan kembali pilihan alas kaki Anda.
Meskipun kota ini tengah pesat meningkatkan infrastrukturnya, berjalan kaki di Jakarta tetap merupakan sebuah "petualangan" unik yang sering kali mengejutkan para wisatawan.
Jika Anda telah melihat konten terbaru kami tentang realita jalanan Jakarta, Anda tahu bahwa trotoar seringkali menjadi kotak kejutan. Berikut lima alasan mengapa berjalan kaki di Jakarta tidak semudah kelihatannya.
Di banyak kota global, trotoar adalah tempat perlindungan bagi pejalan kaki.
Di Jakarta, trotoar sering dijadikan lajur tambahan bagi pengendara motor yang ingin menghindari kemacetan.

Pemandangan biasa melihat sepeda motor melaju kencang melewati Anda saat Anda hanya mencoba mencapai blok berikutnya.
Warga lokal sudah terbiasa, tetapi bagi pengunjung, bunyi klakson yang terus-menerus di belakang Anda di jalur pejalan kaki bisa cukup mengejutkan.
Jakarta terletak hampir tepat di garis khatulistiwa. Ini berarti sinar matahari sangat terik dan kelembapan jarang menurun.

Berjalan kaki sejauh 800 meter saja bisa terasa seperti latihan fisik penuh. Saat Anda tiba di tujuan, kemungkinan besar Anda memerlukan mandi dan berganti pakaian.
Di kota ini, berjalan kaki bukan sekadar olahraga, melainkan ujian ketahanan fisik.
Bahkan saat tidak ada sepeda motor, jalur fisiknya sendiri bisa menyulitkan.

Trotoar di area tertentu sering dipenuhi oleh pedagang kaki lima, sepeda motor yang diparkir, atau tiang listrik acak tepat di tengah jalur.
Selain itu, permukaan jalan yang tidak rata atau ubin yang pecah adalah pemandangan umum, sehingga Anda harus selalu mengawasi pijakan kaki agar tidak tersandung.
Salah satu hal paling menyebalkan bagi pejalan kaki adalah "trotoar yang menghilang."

Anda mungkin berjalan di atas jalur yang mulus sejauh 200 meter, namun tiba-tiba berakhir di jalan raya yang sibuk atau selokan sempit.
Ketiadaan kontinuitas ini memaksa pejalan kaki untuk sering turun ke jalan utama, berbagi ruang dengan lalu lintas padat dan asap kendaraan bus.

Jakarta merupakan hamparan luas "superblok". Meskipun suatu destinasi mungkin terlihat dekat di peta, kenyataannya menyeberangi persimpangan besar dan melintasi jembatan penyeberangan orang (JPO) membuat perjalanan jauh lebih lama dari yang diperkirakan. Kota ini lebih dirancang untuk roda daripada untuk pejalan kaki.
Mengapa menghabiskan energi Anda berjuang melawan panas dan menavigasi trotoar rusak, sementara Anda bisa menikmati pemandangan dengan nyaman?
Di Ekaputra Tour, kami percaya perjalanan Anda seharusnya tentang destinasi, bukan perjuangan untuk mencapainya.
Layanan transportasi profesional kami menyediakan tempat perlindungan ber-AC yang sejuk, jauh dari jalanan yang kacau.
Biarkan kami yang menangani kemacetan dan navigasi sementara Anda duduk santai dan menikmati yang terbaik yang ditawarkan Jakarta.
Siap menikmati pengalaman Jakarta bebas stres? Pesan Tur Ekaputra Anda hari ini dan jelajahi kota dengan cara yang cerdas.